:():

"I’m strong and independent. I have so many friends and we care each other strongly." says Temy lied to himself.

I feel so complicated with my self. Recently, i have been so busy with tasks. Never ending tasks. Mid term is coming and my proposal not even reach 25% but May is getting closer. Ok, forget about the tasks because i think, you think, everyone has it.

So many moments happen and motivate me to doing better. I’m volunteering at Bina Antarbudaya Chapter Jakarta, it’s a branch of AFS. I met some of the returnee. They talks with their exciting experience that make me regret why i don’t join the program. Actually, i feel motivated with them. I should doing better so i can go abroad and learn more. (They are fun!)

My best friend from “another world” neglected me, again. I chat him but the respond come many hours later that i thought he won’t replay. I pay him attention via socmed but nothing happens. Ok, it’s alright. I think he’s busy. He has soooo many friends and socmed to update. We’ll talk later.

My daily life’s actually goes well. I come in the rhythm and follow the flow.

It’s sucks. I need a blast or refreshing.

Am i too naive to always in good way or what?

O god, give me someone or something that makes me strong and rise again. Please.

Santa Rasa

Di kampus, gue ngambil mata kuliah pilihan Karawitan dan Tari Bali. Empat pertemuan awal gue belajar mitologi dan kosmologi Hindu, latar belakang kesenian Bali dan estetika kesenian Bali. The lessons was good. I learnt how arts synchronize with religion, slight history of Bali’s art, tapi dari keempat pertemuan itu yang gue tangkep sih pelajaran agama Hindunya.

Dari yang gue tangkep, kayak orang harus bener-bener suci kalau mau mempraktekan upacara dengan mengikuti ritual ini itu. Tubuh kita adalah milik masyarakat maka seluruh masyarakat boleh mengetahui kondisi tubuh kita. Yang membuat gue terkesima adalah bagaimana mereka mencapai kedamaian. Dalam Nawa Rasa ada sembilan rasa yang dimiliki manusia, salah satu yang paling tertinggi adalah Sanca Rasa, damai, sama dan tenang. (CMIIW)

Kemaren gue mencoba untuk mencapai dan bertahan pada kondisi Sanca Rasa itu. Well, the day was good. Idk kalo hari itu memang lagi bagus atau gimana. Pagi-pagi udaranya adem, naik bikun masuk-masuk disuguhin lagu macem di JCo, nyampe di kampus ga keringetan dan gue belajar buat kuis pun berjalan lancar. Memang sih hari itu kayak flat aja sebenernya, ga ada yang bikin drop atau seneng. Balanced.

Lalu gue kepikiran, kalau kita dalam kondisi balanced seperti itu, apakah ga ngebosenin? Memang sih kita menjadi dalam kondisi nyaman yang berarti berlawanan sama konsep “Get out from your comfort zone, challenge your self and get the experience” yang biasa kita denger. Temen-temen lo ga akan notice kalo lo lagi punya masalah, ga akan notice kalo lo lagi seneng dan jadi seneng bareng, ga akan notice kalo lo lagi sedih dan menemani lo karena lo udah ‘menyelesaikannya’ sendiri. Memang sih Santa Rasa butuh tingkat spiritualitas yang tinggi dimana lo hanya bergantung dan menyerahkan segalanya pada Tuhan sedangkan kepada lingkungan sekitar lo hanya bersikap netral atau hanya berbuat baik.

"Don’t judge the universe."

Kita ga bisa nyalahin orang lain juga yang gue sendiri ga tau apakah moralnya sudah bergeser, apakah gue aja yang sensi atau memang orang-orang zaman sekarang udah ga bener. We can see that kalo lo belajar mulu, berbuat baik dan play in good way tanpa bergosip, tanpa ngata-ngatain orang, tanpa mengikuti tren yang sedang in kayak ngerokok atau hedonis, kayaknya lo ga akan dapet temen. Seengganya temenan lo bakal flat-flat aja. Nothing special. Atau mungkin zaman yang sudah bergeser juga. Kita lihat di televisi mencerminkan perilaku-perilaku yang ga baik. Junk food, hedonism and in this century secara tidak langsung moralnya telah dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut.

Well, i don’t wanna judge the universe. I think it’s God’s plan and it should be like that.

Post ini memang cuman renungan pribadi aja karena,

"Rasa akan dirasakan apabila ditransendensikan dan anda hanya akan menjadi manusia yang paling rendah apabila hanya disimpan untuk diri sendiri" - Drs. I Made Suparta, M.Hum

Halo!

Shit. Aku ga tau harus ngasih judul postingan ini apaan, soalnya pasti bosen kan ngeliat post say-hello-again berulang-ulang. Artinya aku lagi jarang nge-post dan baru sempet, niat sih tepatnya, nge-post lagi.

Dalam rangka mencairkan skill menulis dan menghindari writer block, mari kita mulai dengan yang sepele dan postan paling mainstrem sejagat raya. “Hai, apa kabar? Lagi sibuk apa?”

Read More

Datang dan Pergi

Manusia adalah makhluk sosial. Tidak bisa kita pungkiri kalau kita membutuhkan orang lain. Bahkan orang yang mengaku dirinya penyendiri pun pasti membutuhkan atau setidaknya berinteraksi dengan orang lain suatu saat. Interaksinya beragam. Mulai hanya sekadar basa-basi sampai omongan serius seperti bisnis. Pasti ada maksudnya.
Aku sendiri sudah pernah berinteraksi dengan banyak jenis orang. Pendiam, lincah, penuh semangat, agamis, apatis, nakal dan masih banyak yang lainnya. Orang-orang datang atau kita yang mendatangi, berinteraksi lalu akhirnya berbeda-beda. Ada yang mundur, statis, berjalan bersama atau mendahului. Datang dan pergi.
Peristiwa itu berlangsung beragam pula. Cepat atau lambat. Senang atau sedih. Sederhana atau drama. Secara tidak sadar, semuanya telah ada yang mengatur.
Sejauh pengalamanku, aku lebih banyak yang menyesuaikan diri dengan orang lain. Aku bisa saja menjadi alim bersama anak-anak mesjid sana atau menjadi [i]animal party[/i] bersama anak-anak borju. Melelahkan, jujur saja. Seakan aku tidak memiliki pendirian. Seperti bagian puzzle yang memiliki banyak lubang. Tapi aku senang saja menyambut mereka apalagi yang niatnya baik. Tidak sedikit dari mereka yang datang kalau ada perlunya saja dan pergi begitu saja hanya melambaikan tangan atau bahkan meninggalkan luka. Biasanya aku tidak begitu menghiraukannya.

Tapi beberapa orang yang tidak disangka meninggalkan memori yang tidak mau aku lepas begitu saja.

Cinta? Bisa jadi salah satunya tapi masih ada yang lain. Pertemanan. Dalam dongeng dan cerita-cerita moral, kita tidak boleh memilih-milih teman. Nyatanya, kita harus cocok-cocokan. Bagaikan puzzle. Mungkin teman yang dimaksud adalah hanya sebatas [i]welcome[/i] saja. Sahabat, urusannya lebih rumit.
Aku adalah seorang [i]fantasist[/i]. Aku percaya akan akhir yang bahagia selamanya, cinta dan pertemanan yang tulus, tinggal di dunia sihir dan monster dan hal-hal gila lainnya. Terkadang aku berpikir, apakah orang-orang diluar sana dibutakan oleh sisi realita dunia yang keras dan kejam? Kebanyakan dari mereka… bagaimana ya aku menjelaskannya? Yah, pokoknya seperti yang kebanyakan orang sekarang lakukan. Mereka serba melakukannya dengan otak. Otak yang berwujud fisik. Bukan hati dan kepercayaan yang tak berwujud.

Intinya, saat ini aku memiliki teman. Aku selalu percaya padanya. Seberapa sebal dan marah aku padanya, setiap ia berbicara lagi, seakan-akan emosi buruk itu luntur dan garis melengkung ke bawah dari bibirkulah yang tercipta. Apakah ini namanya tulus? Aku merasakan ada sesuatu yang salah. Salahku di masa lampau. Tapi, kau tidak akan semudah itu ‘kan, datang dan pergi, temanku?

Ayo kita berjalan bersama :)